Berita
Pekalongan, 22 Mei 2022 bertempat di Lantai 2 Gedung Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah UIN KH. Abdurrahman Wahid, Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir menyelenggarakan Seminar dan Diklat “Baca Tulis dan Menghafal Al-Qur’an Metode Yanbu’a”.
Konferensi Internasional menjadi salah satu kegiatan yang dapat dipilih mahasiswa sebagai media untuk menambah wawasan. Konferensi Internasional akan mempertemukan banyak peserta dari berbagai penjuru dunia untuk dapat saling bertukar informasi yang bermanfaat. Inilah yang dapat menjadi sebuah ajang strategis bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi dalam dirinya, seperti yang dilakukan oleh Muflikhatul Jannah, Fathatul Fallah (keduanya mahasiswi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir angkatan 2018) dan Diah Fany Amalia (mahasiswi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Angkatan 2019) yang telah mengikuti dua perhelatan konferensi internasional yang dilaksanakan di Turki pada bulan Mei 2022.
Ketiga mahasiswi IAT IAIN Pekalongan ini mengikuti konferensi internasional secara daring melalui aplikasi zoom meeting. Pendaftaran konferensi dan pengumpulan abstrak penelitian dilaksanakan secara daring. Bagi peserta yang abstrak penelitiannya terpilih, maka dilanjutkan dengan pemaparan atau presentasi paper yang juga dilaksanakan secara daring. Dua mahasiswi IAT, Muflikhatul Jannah dan Diah Fany Amalia mengikuti International Conference dengan mempresentasikan paper terbaiknya berjudul “Diet Concept in the Qur’anic Perspective” yang diselenggarakan oleh Istanbul Gedik University, Istanbul, Turki dalam format kegiatan “Ganud – 3 International Conference on Gastronomy, Nutrition, and Dietetics” yang diselenggarakan pada tanggal 6-8 Mei 2022. Konferensi Internasional tersebut diikuti oleh 18 negara meliputi Turki, India, Ethiopia, Romania, Nigeria, Pakistan, Iran, Algeria, Sudan, China, Kazakistan, United Kingdom, Malaysia, Rusia, Azerbaijan, Cyprus, Maroko, dan Indonesia.
Dilanjutkan pada tanggal 20-21 Mei 2022, seorang mahasiswi IAT, Fathatul Fallah juga mempresentasikan paper terbaiknya berjudul “The Philosophy of War and Counter-Radicalization by Reinterpretation of Contemporary Indonesian Jihad in Gus Baha’s View” dalam 2nd International Conference Symposium on War Studies yang diselenggarakan oleh “IKSAD Institute, Violece and Abuse Studies, Ankara, Turki”. Konferensi Internasional ini diikuti oleh 11 Negara yaitu Azerbaijan, Turki, Vietnam, Pakistan, Iran, Indoa, Ukraina, Kazakhstan, USA, Oman dan Indonesia.
Keberhasilan mahasiswi IAT IAIN Pekalongan dalam mengikuti konferensi level internasional ini menorehkan prestasi yang membanggakan dengan berhasil menjadi Presenter terbaik dan Paper terbaik dalam dua forum Konferensi Internasional yang berbeda. Hal tersebut membuktikan bahwa semangat berprestasi dengan memberikan upaya terbaik mahasiswa IAT IAIN Pekalongan yang selalu ditingkatkan bukan hanya dalam level nasional melainkan juga Internasional.
Di tengah derasnya arus transformasi digital dan kemajuan teknologi, Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalongan kembali menghadirkan kegiatan akademik inspiratif bertajuk “Studium General: Urgensi Studi Ilmu-Ilmu Keagamaan di Era Society 5.0”. Acara ini digelar pada Rabu, 2 Maret 2022, mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB, dan diikuti secara daring maupun luring oleh ratusan mahasiswa semester dua.
Kegiatan yang bersifat wajib bagi mahasiswa baru FUAD ini menghadirkan dua narasumber istimewa: Prof. Muhammad Ali, Ph.D. dari University of California, Riverside, dan Dr. H. Najahan Musyaffak, M.A. dari UIN Walisongo Semarang. Dua akademisi tersebut dikenal luas atas kiprah dan kontribusinya dalam bidang studi keislaman, pemikiran modern, serta dialog antara agama dan sains.
Dalam sambutannya, panitia menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan menanamkan kesadaran kepada mahasiswa tentang pentingnya memahami posisi dan tantangan studi keagamaan di tengah era Society 5.0 — sebuah fase masyarakat yang mengintegrasikan kemajuan teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan. Dekan FUAD IAIN Pekalongan menyebut, “Studi agama tidak boleh tertinggal dari perkembangan zaman. Justru ilmu-ilmu keagamaan harus menjadi penuntun moral dan etika dalam dunia digital yang semakin kompleks.”
Sebagai narasumber pertama, Prof. Muhammad Ali, Ph.D. menyampaikan materi yang memadukan refleksi ilmiah dan spiritual. Dalam pemaparannya yang disampaikan dari Amerika Serikat, beliau menekankan bahwa era Society 5.0 menuntut manusia untuk tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga bijak secara spiritual dan moral. “Teknologi tanpa nilai kemanusiaan akan melahirkan krisis baru. Oleh karena itu, ilmu-ilmu keagamaan harus hadir untuk memberi arah dan makna bagi kemajuan,” ujar Prof. Ali dengan nada reflektif.
Ia juga mengingatkan bahwa peran mahasiswa keagamaan kini lebih penting dari sebelumnya. Di tengah kemajuan kecerdasan buatan dan big data, mahasiswa harus mampu mengolah data menjadi hikmah, bukan sekadar informasi. “Al-Qur’an mengajarkan kita berpikir, merenung, dan memahami tanda-tanda kehidupan. Prinsip itu selaras dengan semangat Society 5.0, yang menempatkan manusia sebagai pusat inovasi,” lanjutnya.
Sementara itu, narasumber kedua, Dr. H. Najahan Musyaffak, M.A., menyoroti urgensi kurikulum dan pendekatan baru dalam studi keislaman. Ia menjelaskan bahwa dunia akademik Islam perlu lebih adaptif terhadap kebutuhan zaman. “Mahasiswa harus bisa membaca realitas dengan pendekatan lintas disiplin — menggabungkan tafsir, sosiologi, hingga teknologi. Dengan begitu, ilmu agama tidak menjadi menara gading, tetapi hadir untuk menjawab tantangan sosial masyarakat modern,” tegasnya.
Dr. Najahan juga mendorong agar dosen dan mahasiswa aktif mengembangkan riset interdisipliner yang memadukan nilai-nilai Islam dengan inovasi. “Bayangkan jika prinsip rahmatan lil ‘alamin diterjemahkan dalam desain teknologi ramah lingkungan atau aplikasi sosial berbasis etika Qur’ani. Itulah wajah Islam progresif di era 5.0,” tambahnya penuh semangat.
Sepanjang acara, suasana akademik terasa hidup dan dialogis. Para mahasiswa terlihat antusias mengajukan pertanyaan kritis, baik seputar relevansi studi Islam dengan dunia digital maupun tentang tantangan etika di ruang maya. Moderator membuka ruang diskusi dua arah yang dinamis, membuat forum terasa hangat meski sebagian peserta mengikuti secara daring.
Salah satu mahasiswa yang hadir mengungkapkan kesannya, “Materinya membuka wawasan kami. Ternyata belajar agama di zaman modern bukan sekadar membaca kitab, tapi juga belajar memahami dunia dari perspektif Qur’ani.” Testimoni tersebut menggambarkan bagaimana kegiatan ini benar-benar meninggalkan kesan mendalam bagi peserta.
Di akhir kegiatan, panitia menyampaikan ucapan terima kasih kepada kedua narasumber yang telah berbagi ilmu dan inspirasi. Peserta juga mendapatkan e-sertifikat sebagai bentuk penghargaan atas partisipasi mereka. Namun lebih dari sekadar sertifikat, yang tersisa dari acara ini adalah kesadaran baru: bahwa studi keagamaan bukan ilmu yang statis, melainkan dinamis, terbuka, dan relevan dengan tantangan masa kini.
Studium general ini menjadi bukti nyata komitmen IAIN Pekalongan dalam menyiapkan generasi muda yang mampu berpikir ilmiah, berakhlak Qur’ani, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Di tengah dunia yang semakin digital, kegiatan ini mengingatkan kembali bahwa kemajuan teknologi harus selalu berjalan beriringan dengan kemuliaan nilai kemanusiaan.
Pengumuman
Galeri Foto
Artikel
-
Kebhinekaan dalam Tafsir Al-Qur’an di Medsos
Kamis, 27 Oktober 2022
-
Asuransi Syari’ah, Negosiasi Takdir Tuhan
Senin, 26 September 2022
-
Kontribusi PSQ Dan BPMI Dalam Pengembagan Khazanah Ulumul Qur’an serta Pengembangan Kader Mufassir Di Indonesia
Selasa, 16 Agustus 2022
-
Apakah Poligami itu Sunnah Rasul? Menelisik Fatwa Mufasir Jawa Kontemporer KH. Misbah Musthafa
Rabu, 13 Juli 2022