• kegiatan mahasiswa
  • Ucapan Selamat Kaprodi dan Sekprodi
  • Ucapan Selamat Presenter Terbaik Internasional
  • Ramadhan Kareem

Stadium General IAIN Pekalongan Angkat Tema “Urgensi Studi Ilmu-Ilmu Keagamaan di Era Society 5.0”

02 Maret 2022

Di tengah derasnya arus transformasi digital dan kemajuan teknologi, Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalongan kembali menghadirkan kegiatan akademik inspiratif bertajuk “Studium General: Urgensi Studi Ilmu-Ilmu Keagamaan di Era Society 5.0”. Acara ini digelar pada Rabu, 2 Maret 2022, mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB, dan diikuti secara daring maupun luring oleh ratusan mahasiswa semester dua.

Kegiatan yang bersifat wajib bagi mahasiswa baru FUAD ini menghadirkan dua narasumber istimewa: Prof. Muhammad Ali, Ph.D. dari University of California, Riverside, dan Dr. H. Najahan Musyaffak, M.A. dari UIN Walisongo Semarang. Dua akademisi tersebut dikenal luas atas kiprah dan kontribusinya dalam bidang studi keislaman, pemikiran modern, serta dialog antara agama dan sains.

Dalam sambutannya, panitia menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan menanamkan kesadaran kepada mahasiswa tentang pentingnya memahami posisi dan tantangan studi keagamaan di tengah era Society 5.0 — sebuah fase masyarakat yang mengintegrasikan kemajuan teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan. Dekan FUAD IAIN Pekalongan menyebut, “Studi agama tidak boleh tertinggal dari perkembangan zaman. Justru ilmu-ilmu keagamaan harus menjadi penuntun moral dan etika dalam dunia digital yang semakin kompleks.”

Sebagai narasumber pertama, Prof. Muhammad Ali, Ph.D. menyampaikan materi yang memadukan refleksi ilmiah dan spiritual. Dalam pemaparannya yang disampaikan dari Amerika Serikat, beliau menekankan bahwa era Society 5.0 menuntut manusia untuk tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga bijak secara spiritual dan moral. “Teknologi tanpa nilai kemanusiaan akan melahirkan krisis baru. Oleh karena itu, ilmu-ilmu keagamaan harus hadir untuk memberi arah dan makna bagi kemajuan,” ujar Prof. Ali dengan nada reflektif.

Ia juga mengingatkan bahwa peran mahasiswa keagamaan kini lebih penting dari sebelumnya. Di tengah kemajuan kecerdasan buatan dan big data, mahasiswa harus mampu mengolah data menjadi hikmah, bukan sekadar informasi. “Al-Qur’an mengajarkan kita berpikir, merenung, dan memahami tanda-tanda kehidupan. Prinsip itu selaras dengan semangat Society 5.0, yang menempatkan manusia sebagai pusat inovasi,” lanjutnya.

Sementara itu, narasumber kedua, Dr. H. Najahan Musyaffak, M.A., menyoroti urgensi kurikulum dan pendekatan baru dalam studi keislaman. Ia menjelaskan bahwa dunia akademik Islam perlu lebih adaptif terhadap kebutuhan zaman. “Mahasiswa harus bisa membaca realitas dengan pendekatan lintas disiplin — menggabungkan tafsir, sosiologi, hingga teknologi. Dengan begitu, ilmu agama tidak menjadi menara gading, tetapi hadir untuk menjawab tantangan sosial masyarakat modern,” tegasnya.

Dr. Najahan juga mendorong agar dosen dan mahasiswa aktif mengembangkan riset interdisipliner yang memadukan nilai-nilai Islam dengan inovasi. “Bayangkan jika prinsip rahmatan lil ‘alamin diterjemahkan dalam desain teknologi ramah lingkungan atau aplikasi sosial berbasis etika Qur’ani. Itulah wajah Islam progresif di era 5.0,” tambahnya penuh semangat.

 Sepanjang acara, suasana akademik terasa hidup dan dialogis. Para mahasiswa terlihat antusias mengajukan pertanyaan kritis, baik seputar relevansi studi Islam dengan dunia digital maupun tentang tantangan etika di ruang maya. Moderator membuka ruang diskusi dua arah yang dinamis, membuat forum terasa hangat meski sebagian peserta mengikuti secara daring.

Salah satu mahasiswa yang hadir mengungkapkan kesannya, “Materinya membuka wawasan kami. Ternyata belajar agama di zaman modern bukan sekadar membaca kitab, tapi juga belajar memahami dunia dari perspektif Qur’ani.” Testimoni tersebut menggambarkan bagaimana kegiatan ini benar-benar meninggalkan kesan mendalam bagi peserta.

Di akhir kegiatan, panitia menyampaikan ucapan terima kasih kepada kedua narasumber yang telah berbagi ilmu dan inspirasi. Peserta juga mendapatkan e-sertifikat sebagai bentuk penghargaan atas partisipasi mereka. Namun lebih dari sekadar sertifikat, yang tersisa dari acara ini adalah kesadaran baru: bahwa studi keagamaan bukan ilmu yang statis, melainkan dinamis, terbuka, dan relevan dengan tantangan masa kini.

Studium general ini menjadi bukti nyata komitmen IAIN Pekalongan dalam menyiapkan generasi muda yang mampu berpikir ilmiah, berakhlak Qur’ani, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Di tengah dunia yang semakin digital, kegiatan ini mengingatkan kembali bahwa kemajuan teknologi harus selalu berjalan beriringan dengan kemuliaan nilai kemanusiaan.

Galeri Video

No data displayed on the module. Please check some parameters in the module settings again!
We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree