Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Rabu, 30 Oktober 2024 yang dipaparkan oleh Bapak Ibnu Athoillah S.Pd yang merupakan bidang museum dan dokumentasi di LPMQ. Melalui sesi tersebut, mahasiswa diberikan wawasan mendalam mengenai pentingnya pelestarian dan dokumentasi manuskrip Al-Qur’an, serta peran museum dalam edukasi masyarakat. Di samping memberikan materi, Bapak Atho’illah juga mengajak kami berkeliling ke museum Al-Qur’an.
Selain pemaparan teori, kami juga diajak untuk melakukan tour keliling Museum Al-Qur'an. Dalam kunjungan ini, mereka mendapatkan kesempatan untuk melihat koleksi mushaf dari berbagai daerah, seperti mushaf Jawa dan mushaf Sundawi. Setiap mushaf memiliki ciri khas dan keunikan yang mencerminkan tradisi dan budaya daerah masing-masing, menjadikan setiap halaman dalam mushaf memiliki arti.
Lebih dari sekadar pengenalan, mahasiswa juga diberikan himbauan dan tips terhadap "mushaf kuno-kunoan," yang merupakan tiruan dari manuskrip kuno namun dibuat oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk meraup keuntungan. Manuskrip Al-Qur’an kuno palsu ini sebenarnya dapat dibedakan dengan ciri-ciri melalui cara penulisan ayat yang dibuat buat dan seakan tidak rapi, iluminasi atau hiasan yang kurang teratur, dan tinta yang biasanya mudah dikenali sebagai tinta modern. Semua hal tersebut menjadi tanda bahwa mushaf tersebut bukanlah manuskrip kuno yang asli. Mahasiswa diajak berdiskusi mengenai dampak negatif dari pemalsuan ini terhadap pelestarian budaya Islam dan kepercayaan masyarakat.
Bapak Ahtoillah menyayangkan belum adanya undang-undang ataupun peraturan yang secara khusus menindak lanjuti terkait pemalsuan manuskrip mushaf, sehingga yang bisa dilakukan hanyalah langkah preventif dengan menghimbau masyarakat untuk lebih jeli apabila ada kolektor yang menjual manuskrip. Hal ini menegaskan pentingnya edukasi dan kesadaran masyarakat mengenai keaslian manuskrip mushaf Al-Qur’an dan warisan budaya Islam.

“Pengalaman ini sangat berharga bagi kita, karena bisa melihat dan memahami langsung manuskrip mushaf Al-Qur’an yang berasal dari berbagai daerah untuk memperluas wawasan kita tentang sejarah tradisi Islam di Indonesia terkhusus pada manuskrip Al-Qur’an kuno,” ungkap salah satu mahasiswa.
Melalui pengalaman PPL ini, mahasiswa diharapkan bukan hanya mendapatkan pengetahuan akademis seperti teori tentang manuskrip di Nusantara, tetapi juga melihat secara langsung manuskrip mushaf asli sehingga bisa mengedukasi kepada masyarakat tentang pentingnya keaslian manuskrip mushaf dan kitab peninggalan terdahulu di Nusantara.
Pewarta: Wahyu Sabilatul Mauliyah